Jumat, 21 November 2008

Tanjung Karang yang masih Perawan

Foto: Corbis

DI PANTAI Tanjung Karang Anda dapat menemukan pantai dengan suasana alami. Tanpa deretan toko-toko dan pusat perbelanjaan. Tanjung Karang bisa menjadi pilihan bagi Anda yang ingin menikmati liburan di alam bebas.

Berjarak 34 km timur laut dari Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Donggala merupakan salah satu kota tua yang menyimpan cukup banyak sejarah arsitektur Belanda. Pada masa kolonial, Donggala lebih dikenal sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang cukup sibuk. Kini kota tersebut menjelma jadi daerah tujuan wisata yang paling diminati di Sulteng.

Tidak jauh dari situ, tepatnya 5 km dari Kota Donggala terdapat objek wisata bernama Pantai Tanjung Karang. Pantai ini terkenal sebagai surganya penyelam dan pencinta snorkeling.Menuju pantai ini bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat selama kurang lebih satu jam dari Palu. Perjalanan menuju Pantai Tanjung Karang tidak terasa membosankan karena banyak pemandangan indah di sepanjang jalan.

Tiba di Pantai Tanjung Karang, kaki langsung menapaki putihnya hamparan pasir putih. Sementara mata menatap jernihnya air laut yang berwarna biru karena terkena pantulan langit. Perpaduan keduanya, membawa Anda ke dalam suatu atmosfer yang berbeda. Luar biasa, begitulah respons sejumlah wisatawan yang datang ke Tanjung Karang.

Pantai Tanjung Karang memiliki lanskap yang unik. Di satu sisi, terdapat pantai landai dengan hamparan pasir putih dengan air yang dangkal. Di sisi lain, ada tebing tinggi dengan laut yang cukup dalam. Bagian inilah yang menjadi magnet bagi para penyelam dan pencinta snorkeling. Mereka tidak perlu susah-susah menyelam hingga dasar dan berenang hingga ke tengah laut. Hanya melangkah tiga meter dari bibir pantai, para pencinta snorkeling bisa melihat berbagai koleksi terumbu karang yang masih alami.

Pencinta snorkeling asal Jakarta, Farid, misalnya. Dia sengaja datang ke Tanjung Karang untuk melihat koleksi ikan dan terumbu karang di daerah tersebut. Menurut pria yang sudah sejak satu tahun belakangan ini menggemari kegiatan bawah laut tersebut, wilayah Tanjung Karang merupakan salah satu tempat terbaik untuk snorkeling dan menyelam.

"Pemandangannya sangat bagus dan air jernih sehingga saya bisa melihat koleksi terumbu karang dan ikan dengan jelas," ujarnya. Cukup merogoh kocek Rp10.000, wisatawan juga bisa menyewa peralatan snorkeling selama satu hari. Sedikit saran, saat memilih peralatan snorkeling hendaknya Anda selektif karena beberapa di antaranya ada yang bocor.

Selain Farid, ada pula mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) Palu, Sulteng, Ferry yang tengah berlibur bersama kesepuluh temannya. Ferry mengaku selalu datang ke Pantai Tanjung Karang saat libur semester. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari Palu, diakui Ferry, sebagai salah satu alasan datang ke Pantai Tanjung Karang. "Lokasinya dekat kota (Palu). Biasanya kami rombongan menggunakan sepeda motor," ujarnya.

Pemandangan bawah laut Tanjung Karang memang sudah terkenal sejak lama. Banyak koleksi karang dan ikan yang beragam, seperti nudibranches (siput laut), seahorses (kuda laut), frogfish (ikan katak),leaf fish, dan pipefish. Tidak heran selain dipadati wisatawan lokal, Tanjung Karang juga menarik para wisatawan mancanegara (wisman) untuk datang.
Wisman asal Jerman Jack mengaku selalu memboyong istri dan kedua anaknya ke pantai saat liburan. Jack yang sudah lama bekerja di Palu ini sangat kagum terhadap keindahan Pantai Tanjung Karang.
(sindo//tty)
sumber : okezone.com
Lanjut membaca “Tanjung Karang yang masih Perawan”  »»

Keajaiban Pulau Mursala

Foto: Ist

PERJALANAN menerpa ombak selama dua jam rasanya terbayar sudah ketika kaki menapakkan diri di bibir pantai Pulau Mursala.

Kian ke pantai, air laut berwarna biru tergradasi menjadi warna hijau. Berpadu dengan pasir berwarna putih bak kilauan permata yang diselimuti air laut. Ya, bagi Anda yang sudah hafal dengan kecantikan wisata laut di Pulau Nias, Sumatera Utara, maka ada satu lagi objek bagi Anda penggemar olahraga snorkle yang bisa dijadikan target Anda selanjutnya.

Tidak jauh dari Nias, terdapat Pulau Mursala dengan beberapa pulau kecil yang mengitarinya. Di antaranya Pulau Puti, yang dipastikan memiliki keindahan alam bawah laut. Pulau ini belum banyak dieksplorasi.

Gaung Pulau Mursala, yang merupakan bagian dari Tapanuli Tengah ini, memang belum banyak didengar orang. Di pulau ini belum ada cottage yang bisa dijadikan tempat menginap. Mungkin saja hal itu yang membuat nama Pulau Mursala tak banyak didengar wisatawan.

Namun, kenyataannya kurang lebih ada 60 kepala keluarga yang menetap di Pulau ini. Kabar baiknya, mereka akan dengan senang hati memberikan penginapan kepada pengunjung yang datang ke pulau ini. Atau tempat peristirahatan bagi mereka yang ingin sekadar singgah di Pulau Mursala hingga senja.

Letak Pulau Mursala yang hanya memakan waktu perjalanan selama 2 jam dengan perahu, bisa mengantar Anda dari dermaga yang ada di pesisir Kabupaten Pandan, Sibolga. Harga tidak akan jadi masalah karena perahu ini memasang tarif carter kurang lebih Rp1,3 juta. Beberapa ratus meter menuju pesisir pantai Mursala, Anda sudah disuguhi pemandangan bawah laut yang cukup memesona.

Taman terumbu karang di Pulau Mursala sendiri sudah menjadi salah satu target tempat konservasi terumbu karang yang dilakukan COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program) - sebuah lembaga yang dinaungi oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan) dan Dinas Kelautan dan Perikanan untuk menjaga kelestarian terumbu karang.

Tempat lain yang wajib dikunjungi jika Anda sempat ke Pulau Mursala adalah menyingkap keajaiban air terjun yang berada di pinggir Pulau Mursala. Bagi Anda yang memiliki waktu banyak bisa saja menyusuri langsung dari mana air terjun yang langsung jatuh ke samudera lepas itu bermula. Untuk Anda yang hanya ingin merekam keindahan air terjun itu, Anda bisa menyaksikannya dengan mencarter kapal.

Kawasan Tapanuli Tengah memang sedang menuju pengembangan pariwisata. Melalui program Tapanuli Growth, rencananya ada pembangunan objek wisata yang dikabarkan didesain oleh Nyoman Nuarta-yang juga mendesain Garuda Wisnu Kencana di Bali-dengan merencanakan pembuatan hotel dengan bentuk perahu. Kelak, di atas hotel tersebut akan berdiri patung yang diberi nama Patung Anugrah, seperti yang dimiliki San Paulo dengan patung Yesus O Cristo Redentor di Bukit Corcovado sebelah utara Rio de Jenairo.
(sindo//tty)
sumber : okezone.com
Lanjut membaca “Keajaiban Pulau Mursala”  »»

Wajah Baru Pantai Losari

Foto: Ist

PANTAI Losari sebagai ikon Kota Makassar kini memiliki perwajahan baru dengan anjungannya yang luas. Tidak saja untuk menikmati matahari terbenam (sunset), tapi juga pemandangan lainnya.

Apa saja asyiknya nongkrong di anjungan? Tentu saja banyak, kita bisa merasakan suasana santai dan rileks karena tiupan angin laut yang segar, bisa melihat pemandangan pinggir pantai yang dijejeri jajanan-jajanan ringan, ataupun juga bangunan-bangunan tinggi seperti hotel yang terlihat elegan berdiri menghadap ke pantai.

Sementara, di sisi barat, sudah pastinya pemandangan laut lepas yang terkadang dihiasi dengan berbagai macam objek seperti nelayan di atas sampannya yang siap-siap melempar jaring, kapal selancar atau kapal besar maupun kontainer yang siap-siap berlabuh. Bahkan, beberapa pulau yang masuk jajaran kepulauan spermonde bisa terlihat jelas dari Losari.

Sekarang apa yang bisa kita lakukan di tempat ini? Tidak hanya mulai sekadar duduk-duduk di kursi panjang yang banyak tersedia di anjungan, bisa pula kita berkumpul dengan orang-orang yang sedang beratraksi bola, atau bersenda gurau di selasar anjungan sambil memandangi laut lepas, memancing. Bahkan, bisa juga menikmati perjalanan pendek di sekitar pantai menggunakan perahu komersial yang dikenal dengan nama bebek-bebek (karena bentuknya memang menyerupai bebek).

Hampir semua orang yang datang ke tempat ini memang terlihat ingin menikmati pantai dan segala jenis fasilitas yang disediakan. Mungkin pula bisa dikatakan untuk cuci mata memandangi semua orang yang menyempatkan datang di anjungan.

Setiap hari anjungan ini dipenuhi pengunjung, baik masyarakat setempat maupun pendatang. Bahkan, wisatawan asing yang memilih Makassar sebagai daerah tujuan wisata pasti menempatkan anjungan Losari sebagai tujuan pertama mereka untuk dikunjungi. Hal tersebut diakui Nicky dan Dill, pasangan turis asal Inggris ini terlihat asyik berkeliling dan menikmati sentuhan air laut Losari di salah satu tempat nongkrong paling favorit di anjungan ini.

"Kami senang bisa berlibur di Pulau Sulawesi. Banyak tempat bagus yang kami temui, termasuk Pantai Losari. Di sini adalah tempat hang out yang tepat karena bisa bertemu banyak orang," tutur Nicky.

Sementara Dill mengaku senang bisa menemukan tempat seperti Anjungan Losari yang belum pernah ditemuinya di tempat lain. Di sini orang-orang bisa bersantai dengan lebih leluasa. Bahkan, dia sanggup betah nongkrong sampai pagi di anjungan ini jika mendapat tantangan itu.

Luas anjungan Losari hampir menyamai luas satu lapangan sepak bola sehingga orang-orang bisa leluasa berjalan, berlari ataupun melakukan kegiatan yang lain, seperti memotret dengan banyak pilihan angle. Di tengah-tengah anjungan terdapat tugu pinisi yang melambangkan Makassar sebagai daerah bahari.

Beberapa titik di anjungan ini sengaja ditanami pohon palem untuk memberikan kesan hijau sehingga pengunjung merasa teduh. Selain itu, beberapa deretan tempat duduk yang terbuat dari semen sengaja diletakkan secara tersebar.
Karena itu mengesankan tempat ini memang bisa jadi tempat nongkrong yang asyik di segala sudut.

Di sisi kiri dan kanan anjungan terdapat jalan kecil menurun menuju ke "dermaga terapung". Mereka yang nongkrong di sekitar selasar jalan kecil tersebut pastinya lebih memilih menikmati pemandangan laut daripada sekadar nongkrong di deretan tempat duduk panjang tadi.

Tempat nongkrong paling favorit di anjungan ini pastinya adalah "dermaga terapung". Bentuknya seperti puzzle dan terapung sehingga kalau mengambil posisi berdiri di atas dermaga ini, kita akan ikut terombang-ambing air laut. Di sini pengunjung bisa menikmati langsung laut lepas tanpa batas apa-apa. Bahkan, di pinggiran dermaga, biasanya dipenuhi orang-orang yang duduk-duduk sambil membenamkan kaki di air.

Ada pula yang lebih memilih memancing karena di sini ada penyedia jasa pancingan dengan harga Rp10.000.
Biasanya, aktivitas memancing ini paling banyak dilakukan pengunjung yang memilih nongkrong pada malam hari hingga dini hari.

Bagi yang senang nongkrong sambil menikmati air laut di sekitar bibir pantai, bisa menyewa bebek-bebek untuk berkeliling di sekitar pantai. Harga sewanya pun Rp3.000 per orang.

Biasanya, sekali jalan, bebekbebek ini menampung sampai 8 orang. Biasanya, nongkrong di suatu tempat tidak hanya sekadar nongkrong, juga menikmati camilan dan minuman ringan. Di anjungan Losari, kita bisa sambil menikmati sepiring kecil pisang epe dan soft drink ataupun kacang rebus yang banyak ditawarkan para penjual yang berkeliaran di tempat ini.

Bisa juga menikmati camilan yang sudah dibawa dari rumah sehingga itu sudah bisa menghemat pengeluaran. Namun, kebersihan tentu saja harus tetap dijaga. Usai menikmati makanan, tentu saja sampahnya harus dibuang di tempat sampah yang tersedia.

Hal itulah yang paling sering diserukan petugas anjungan lewat pengeras suara tatkala mendapati suasana anjungan sudah ramai dan penuh dengan aneka makanan dan minuman ringan yang dibawa pengunjung.

Anjungan ini tidak hanya ramai setiap harinya kala sore hari menjelang. Tapi yang paling seru, tentu saja pada Sabtu malam.
Tempat ini pastinya menjadi tujuan utama untuk bermalam Minggu. Apalagi biasanya banyak hiburan yang bisa dijumpai seperti konser musik ataupun ekshibisi.

Bahkan, akan banyak ditemui berbagai macam klub. Antara lain klub motor ataupun mobil dan masih banyak lainnya yang biasanya mengisi malam panjang di sekitar anjungan.
(sindo//tty)
sumber : okezone.com
Lanjut membaca “Wajah Baru Pantai Losari”  »»

Senin, 03 November 2008

Keheningan Kawah Putih

Foto: Corbis

DI Bandung Selatan, terdapat sebuah gunung bernama Gunung Patuha. Dengan ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut (dpl), orang tua dahulu menyebut gunung ini dengan nama Gunung Sepuh.

Gunung tersebut memiliki dua kawah, yaitu Kawah Saat di puncak bagian barat, dan Kawah Putih yang berada di bawahnya pada ketinggian 2.194 meter dpl. Dibandingkan dengan Kawah Saat, Kawah Putih lebih kesohor di telinga masyarakat. Hal itu karena Kawah Putih dijadikan objek wisata utama di kawasan Ciwidey oleh PT Perhutani.



Rasanya sangat tepat jika Kawah Putih dijadikan objek wisata. Saat menuju ke sana, Anda akan mendapatkan pengalaman perjalanan jiwa yang sangat menyenangkan. Bayangkan, udara dingin yang menusuk kulit ketika melintasi jalan menuju Kawah Putih jelas sangat menggoda. Menggoda pengunjung untuk membuka jendela kendaraan dan menyadari kalau Anda sudah menemukan keperawanan alam di Kota Bandung.

Aroma tanah berkolaborasi dengan udara dingin dan biasan cahaya matahari yang menembus sedikit demi sedikit dari rindangnya pepohonan, membuat kita tidak memedulikan liukan jalan yang terkadang terasa sangat tajam itu.

Mencapai pintu gerbang objek wisata Kawah Putih, pengunjung harus merogoh kocek Rp10.000 per orang. Jangan anggap tarif tersebut mahal karena apa yang akan kita temukan di atas nantinya, tidak akan dapat Anda bayarkan dengan uang apa pun. Kurang lebih 10 menit setelah pintu masuk, kita akan menemukan tempat singgah untuk mengistirahatkan kendaraan Anda. Ketika membuka pintu kendaraan, menyingkap jaket erat-erat dan melipat tangan menjadi pemandangan wajib.

Makanya, mampir sesaat di warung- warung yang ada di sana juga menjadi satu hal yang wajib. Ya, hitung- hitung dengan segelas bandrek ataupun kopi susu, pastinya dapat menghangatkan perut Anda.

Setelahnya, mulailah menyusuri ke atas sedikit anak tangga, hingga Anda mencapai satu lapangan kecil yang dipenuhi pedagang yang biasanya menjajakan stroberi ataupun pernak-pernik yang bisa Anda bawa pulang sebagai buah tangan seperti syal ataupun sekadar kaus.

Di sisi lain lapangan, Anda akan menemukan anak tangga yang menurun. Tidak curam, hanya memang Anda harus berhati-hati karena beberapa tangga yang sudah terkikis. Menuju akhir dari anak tangga itu, Anda sudah bisa mengintip hamparan air berwarna hijau tergradasi biru yang akan membuat Anda menaikkan kecepatan kaki Anda untuk segera mendekati permadani air itu.

Menyaksikan Kawah Putih dari dekat membuat Anda ingin merekam apa yang Anda lihat dan rasakan di sana. Aroma belerang yang cukup menyengat bukan menjadi halangan bagi Anda yang masih ingin menjelajahi bebatuan yang bisa Anda pijak di hampir semua sisi Kawah Putih.

Bagi sebagi orang, memang bau belerang ini menjadi gangguan karena menyebabkan batuk-batuk. Jika Anda mengitari Kawah Putih, maka Anda akan menemukan pusat aroma belerang selain dari uap kawah. Di sana ada gua buatan sedalam 5 meter yang katanya dulu pernah dijadikan sebagai tambang belerang.

Jika melewati gua tersebut, Anda pasti akan mencium bau belerang yang sangat menyengat. Karena kandungan belerang yang sangat tinggi di sekitar areal itu, pada zaman dulu didirikan pabrik belerang yang diberi nama Zwavel Ontgining Kawah Putih.

Bagi para perekam eksotisme alam, pemandangan asap putih belerang dan hijaunya air kawah serta tebing-tebing kering yang dipadu birunya langit membuat Kawah Putih tidak hanya menjadi objek wisata, juga menjadi tempat andalan bagi para calon pengantin untuk membuat dokumentasi foto pre-wedding.
(sindo//tty)
sumber : okezone.com
Lanjut membaca “Keheningan Kawah Putih”  »»

Indahnya Lombok

Foto: Istimewa

LIBURAN panjang akan segera tiba. Jika sempat, Anda tidak boleh melewatkan wisata Matra Lombok, yakni Gili Meno, Gili Trawangan, dan Gili Air. Dijamin tidak akan rugi.

Bagi Anda pencinta wisata alam laut, kawasan Gili Meno, Gili Trawangan, dan Gili Air di Lombok, Nusa Tenggara Barat, adalah kawasan yang tidak boleh terlewatkan dalam jadwal wisata Anda.



Di ketiga gili (pulau) ini,Anda akan merasakan keindahan alam yang sensasional. Ketiga pulau kecil ini mempunyai karakteristik yang berbeda dan menyesuaikan kebutuhan Anda.

Jika Anda tidak ingin direpotkan dengan jarak tempuh, Anda tinggal datang ke Gili Air. Namun, jika Anda mau menikmati petualangan menyusuri laut, Anda harus datang ke Gili Trawangan dan Gili Meno.

Gili Meno, Trawangan, dan Air (Matra) sendiri dikukuhkan sebagai Taman Wisata Alam Laut oleh Menteri Kehutanan berdasar Surat Keputusan No99/Kpts-II/2001 tanggal 15 Maret 2001. Kawasan perairan ini meliputi perairan laut yang mengelilingi tiga pulau, Gili Meno seluas 150 hektare, Gili Air seluas 175 hektare, dan Gili Trawangan seluas 340 hektare, sisanya seluas 2.289 hektare merupakan perairan laut.

Secara administrasi, Taman Wisata Alam Laut (TWAL) ini termasuk ke dalam Desa Gili Indah Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Batas kawasan di bagian barat berbatasan dengan Laut Jawa, di bagian timur dengan Tanjung Sire, di bagian utara dengan Laut Jawa, dan di bagian selatan berbatasan dengan Selat Lombok.

Lalu apa yang menarik dari ketiga pulau ini? Kawasan ini merupakan objek wisata bahari yang banyak diminati, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Itu karena di kawasan tiga pulau ini terkenal dengan pantai pasir putih, kondisi perairan laut yang jernih, berbagai jenis ikan, dan keanekaragaman terumbu karang, khususnya dari jenis karang biru (blue coral).

Saat pertama kali menjejakkan kaki di Gili Trawangan, Anda akan menikmati ketenangan. Tak ada hiruk pikuk keramaian seperti laiknya kawasan wisata. Pasir pantainya yang lembut dan airnya yang jernih seolah memastikan kita akan semakin betah tinggal di "surga" para penyelam ini.

Pemandangan bawah air di sekitar Gili Trawangan konon merupakan yang terindah di Indonesia. Anda dapat menikmati keindahan bawah laut di sekitar Gili Trawangan dengan cara diving (menyelam) dan snorkeling. Tak hanya ada karang atau taman laut, beragam ikan hias juga dapat Anda nikmati di sini. Kalau ingin bersantai bersama keluarga, cobalah menginap di Gili Air?

Pulau kedua di seberang Gili Trawangan. Luas pulau Gili Air 180 hektare dan panjang pantai sekeliling pulau ini 6 kilometer. Adapun Laut Flores di utara pulau kecil ini cukup banyak ikan hiasnya berwarna biru dan kuning, merah, putih di dalam lekukan karang. Pemandangan ini tentu membuat tamu yang menginap menjadi betah.

Memang pulau Gili Air ini terkesan sepi. Kesan sepi ini semakin terasa karena banyaknya pohon kering yang berdiri indah di pinggir pantai. Arus air laut yang tenang dan deburan ombak saat senja membuat suasana semakin nyaman. Suasana ini katanya yang dicari orang-orang asing yang jenuh dengan kebisingan.

Sementara itu, Gili Meno yang terletak di tengah, antara Gili Trawangan dan Gili Air, lebih sesuai bagi wisatawan yang menginginkan suasana rileks di tengah kesunyian. Pengunjung benar-benar disuguhi nuansa alami pantai tropis yang tenang. Pepohonan bakau masih terlihat merimpun di sepanjang pesisir pantainya.
(sindo//nsa)
sumber : okezone.com
Lanjut membaca “Indahnya Lombok”  »»

Gunung Kidul, City of Beach

Pantai Kukup (Foto: pesonagunungkidul.com)

APA yang terlintas di benak Anda jika mendengar Gunung Kidul? Kering dan tandus? Jika iya, Anda memang tidak salah. Namun, wisata pantai di daerah ini patut Anda kagumi.

Gunung Kidul berada pada deretan Pegunungan Selatan atau juga Pegunungan Sewu. Daerah ini merupakan perbukitan batu gamping (limestone) dan bentang alam karst yang tandus dan kekurangan air permukaan. Bagian tengah merupakan cekungan Wonosari (Wonosari Basin) yang telah mengalami proses tektonik sehingga yang tampak dataran tinggi Wonosari. Jadi wajar jika masih banyak orang berpikir Gunung Kidul itu panas.



Namun, di balik anggapan tersebut, Gunung Kidul justru mempunyai pesona tersendiri. Gunung Kidul kaya wisata alam, mulai karst hingga pantai.

Untuk wisata pantai, warga Gunung Kidul patut bangga. Mereka memiliki banyak wisata pantai yang indah. Dari kawasan pesisir yang panjangnya sekitar 70 km, terdapat 15 kawasan wisata pantai yang menjadi andalan pariwisata di Gunung Kidul. Pantai-pantai itu tersebar di beberapa kecamatan, di antaranya Kecamatan Tepus, Tanjungsari, Girisubo, Saptosari, Purwosari, dan Panggang. Sebut saja Pantai Kukup, Pantai Gesing, Pantai Ngobaran, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Pantai Sepanjang, Pantai Ngandong, dan Pantai Wediombo yang menghadirkan keindahan pasir putih, biota laut, dan terumbu karang. Ratusan jenis ikan hias dapat disaksikan langsung saat permukaan air laut tenang.

Kesan tandus bagi Gunung Kidul tertutupi potensi Pantai Baron, Pantai Ngrenehan, Pantai Siung, Pantai Drini, dan Pantai Sadeng yang merupakan andalan untuk pemasokan ikan laut segar di dalam negeri. Di antaranya, ikan bawal, tuna, kakap, layur, lobster, tongkol, pari,dan hiu.

Keindahan juga dihiasi dengan pepohonan pantai, seperti Pantai Drini, memiliki kekhasan pohon drini, yaitu sejenis perdu yang tumbuh di bebatuan Pantai Drini. Sayangnya, pohon drini mulai sulit ditemukan seiring dengan ulah tangan-tangan jahil yang mengambil pohon tersebut untuk dijual. Kini yang tersisa hanyalah tanaman-tanaman drini kecil yang tumbuh di bebatuan pantai.

Beberapa jenis ikan hias juga semakin sulit dicari, seiring dengan maraknya pemburuan ikan hias. Sering kali, penangkapan ikan tersebut menggunakan potas, yaitu zat kimia yang berfungsi memabukkan hewan, tapi dapat membunuh ikan-ikan kecil lainnya.

Ikan-ikan hias jenis scorpion, angel, dan lettersix yang biasanya mudah ditemukan di kawasan Pantai Krakal, dan Kukup, kini sulit dicari. Harganya pun sekarang sudah relatif mahal, di atas Rp100.000 per ekor. Demikian pula pemburuan terhadap terumbu karang semakin gencar, setiap set bisa laku Rp20.000-Rp50.000.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunung Kidul, objek wisata pantai menyumbang sekitar 95% dari retribusi pariwisata di Gunung Kidul. Meskipun demikian , pantai-pantai itu tidak digarap secara serius. Sebagian besar kawasan wisata pantai belum dilengkapi sarana pendukung yang utama, seperti listrik, transportasi umum, maupun keamanan pantai.

Dari 15 kawasan wisata pantai di Gunung Kidul, hanya Pantai Baron dan Kukup yang telah dilengkapi sarana listrik. Demikian pula transportasi umum hanya tersedia menuju ke kawasan Pantai Baron, Kukup, dan Drini.
(sindo//tty)
sumber : okezone.com
Lanjut membaca “Gunung Kidul, City of Beach”  »»

Menikmati Pesona Borobudur

Foto: Ist

SIAPA tak kenal Candi Borobudur? Candi Buddha yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini memiliki 1.460 relief dan 504 stupa Buddha di kompleksnya. Benarbenar sebuah keajaiban dunia yang memikat hati.

Candi Borobudur dibangun oleh Raja Samara tungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasarkan prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824.



Nama Borobudur berarti sebuah gunung yang berteras-teras (budhara), sementara beberapa yang lain mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi. Bangunan Borobudur sendiri berbentuk punden berundak terdiri atas 10 tingkat dengan tinggi 42 meter. Namun setelah direnovasi, tinggi candi ini sekitar 34,5 meter.

Dari 10 tingkat itu, enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Buddha yang menghadap ke arah barat. Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Bagian dasar Borobudur, disebut Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.

Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu, tapi masih terikat rupa dan bentuk. Sementara, tiga tingkat di atasnya, tempat Buddha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk Sementara tingkatan paling atas yang disebut Arupa atau melambangkan nirwana, tempat Buddha bersemayam.

Borobudur tak sekadar bangunan berundak. Setiap tingkatan candi memiliki relief-relief indah yang bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, yaitu Ramayana. Namunterdapatpulareliefyang menggambar kan kondisi masyarakat saat itu, seperti bertani dan berlayar.

Tak heran jika dalam satu tahun, sekitar 1 juta lebih wisatawan mengunjungi candi ini. Hanya saat gempa bumi Yogyakarta 27 Mei 2006, pengunjung candi ini menurun. Maklum, sarana dan prasarana sekitar candi mengalami kerusakan hebat, terutama di Yogyakarta. Masyarakat sekitar pun tidak sempat memikirkan untuk melakukan kunjungan wisata ke candi ini, seperti yang sudah biasa dilakukan. Beruntung, gempa itu tidak meluluhlantakkan candi nan ajaib ini.

Seiring berjalannya waktu, pengaruh gempa bumi pada dunia pariwisata Yogyakarta dan sekitarnya mulai pulih. Kondisi itu juga terjadi pada kunjungan wisata candi Borobudur. Tahun 2007 lalu, kunjungan wisata di candi ini mampu mencapai angka 1,5 juta lebih. Tahun ini, pengelola Borobudur menargetkan kunjungan wisata sebanyak 1,8 juta orang.

Karena itu, tak hanya waktu siang yang dibidik untuk memenuhi target kunjungan itu. Dalam waktu-waktu tertentu, sebuah acara pentas sendratari Mahakarya Borobudur digelar pada malam hari. Pentas itu sekaligus menghidupkan wisata malam candi Borobudur.

Wakil Kepala Unit Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) Pudjo Suwarno menyebutkan, tahun ini, pentas Sendratari telah dihelat 3 kali.

Masing-masing pada 17 Mei 2008, 5 Juli 2008, dan 2 Agustus 2008. Dari tiga pementasan itu, pentas pertama dilakukan mendekati Waisak. "Kita juga optimistis gaung pementasan Sendratari Mahakarya Borobudur pada malam hari itu akan relatif besar dan mampu memikat wisatawan untuk bertandang ke Candi Borobudur," katanya.

Masih Ada Pesona Candi yang Lain

Di sekitar candi Borobudur, Anda bisa mengunjungi candi-candi yang lain. Maklum, selain Borobudur, Kabupaten Magelang juga menawarkan wisata ke sejumlah candi yang memang gaungnya kalah dibanding Borobudur. Antara lain Candi Mendut, Pawon, Selogriyo, serta candi Aso.

Untuk Candi Mendut, terletak kurang lebih 3 km sebelum Candi Borobudur dari arah Yogyakarta. Candi ini memiliki atap yang berbentuk limas dan di dalamnya terdapat patung Buddha yang diapit dua arca.

Sementara Candi Pawon merupakan bangunan suci Buddha yang disebut dalam prasasti karang tengah 824 m. Letaknya juga segaris dengan Candi Mendut dan Candi Borobudur karena terletak di Desa Brojonalan, Kecamatan Borobudur.

Untuk Candi Selogriyo, terletak pada kaki bukit condong berbatasan dengan bukit Giyanti. secara keseluruhan terletak di lereng Bukit Sukorini sebelah timur Gunung Sumbing di Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Candi ini merupakan bangunan tunggal yang memiliki bentuk tidak berbeda dengan candi-candi Hindu lainnya.
(sindo//tty)
sumber : okezone.com
Lanjut membaca “Menikmati Pesona Borobudur”  »»

Surga Terpendam

Bunaken (Corbis)

SULAWESI UTARA (Sulut) sangat terkenal dengan pariwisata bawah laut, Bunaken. Sebenarnya, banyak potensi wisata bawah laut lainnya di sini, misalnya kawasan pantai dan bawah laut di Minahasa Tenggara.

Nah, bila Anda sedang berlibur menikmati surga bawah laut Bunaken sangat dianjurkan untuk mencoba menyelami keindahan kehidupan bawah laut di kabupaten yang baru berdiri ini. Tepatnya di kawasan Ratatotok. Di sini setidaknya terdapat 13 titik penyelaman atau diving. Antara lain, Teluk Totok, Pulau Racun, Teluk Buyat, Teluk Sikoad, Teluk Bohaba, dan Pulau Tulang.

Untuk mencapai lokasi tersebut memang butuh "pengorbanan", tapi sesampai di sana semua yang Anda korbankan pasti terbayar lunas. Untuk mencapai lokasi dari Bandara Sam Ratulangi, Manado, butuh waktu hampir empat jam perjalanan darat.

Waktu tempuh tiga jam dilalui dengan kondisi jalan beraspal mulus dan selebihnya Anda akan merasakan perjalanan penuh lubang, off road! Obat antimabuk darat pun mesti disiapkan. Jangan khawatir soal alat transportasi.

Sebab, banyak taksi dan kendaraan yang bisa disewa berjajar di bandara. Tak terlalu mahal, hanya Rp550.000. Itu sudah termasuk bensin dan sopir dengan durasi 24 jam.

Dalam perjalanan, Anda yang pernah melintas di Puncak, Jawa Barat, pasti akan teringat daerah ini. Pasalnya, sepanjang jalan yang akan Anda temui adalah daerah pegunungan. Pada sisi kanan terdapat bukit berpohonan, sedangkan di sisi kiri terhampar pepohonan kelapa milik perkebunan rakyat menghiasi tepian jurang.

Soal makanan, wisatawan yang datang juga tidak perlu khawatir. Sebab, ada sejumlah tempat makan yang layak disinggahi. Contohnya, rumah makan Sineleyan yang ada di Tomohon. Tempat ini bisa menjadi pelampiasan Anda untuk memuaskan hasrat kuliner. Seperti namanya, Sineleyan banyak menyajikan menu dari ikan air laut dan air tawar. Tentunya diolah sesuai khas Manado.

Konsepnya menciptakan kenyamanan tersendiri karena berada di atas kolam besar. Udara pegunungan akan menambah nafsu makan Anda di sini. Selain diwarnai dengan pemandangan alam yang indah perjalanan berkelok, perjalanan juga naik-turun.

Nah untuk menghilangkan rasa mual atau bosan, singgahlah sebentar di warung-warung milik penduduk di daerah Pangu Ratahan. Mereka menjual beraneka buah-buahan hasil perkebunan, utamanya adalah buah salak. Rasanya cukup manis, tapi kalau ingin yang sedikit kecut juga ada. Harganya pun tak mahal.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, sajian pemandangan sedikit berubah, tapi dijamin lebih mengasyikkan. Sebab, di sisi kiri pemandangan hamparan laut biru sangat sayang dilewatkan. Apalagi kalau lautnya berada pada sebuah teluk di mana terdapat banyak nelayan sedang menjaring ikan.

Pemandangan alam nan indah tentunya membuat Anda terbuai hingga tak sadar perjalanan sudah berakhir. Kalau sudah sampai di Ratatotok, tepatnya di Pantai Lakban, wisatawan bisa beristirahat sejenak menikmati indahnya alam di sini.

Kemudian, jangan lupa bernegoisasi dengan nelayan saat menyewa perahu yang akan mengantarkan Anda ke lokasi diving atau snorkeling. Biasanya para nelayan mematok harga sekitar Rp500.000. Nah, jika perahu sudah didapat serta peralatan menyelam sudah tersedia, Anda bisa segera meluncur ke-13 titik penyelaman.

Karena jaraknya yang lumayan jauh satu sama lain, wisatawan bisa menyinggahinya tidak dalam satu hari kunjungan. Hanya saja, sebagai "pemanasan" Anda bisa melakukan snorkeling di titik antara Pulau Dakokayu dengan daratan terluar dari Tanjung Ratatotok. Di sini, dapat dilihat kehidupan bawah laut secara jelas dari atas air tanpa harus menyelam lebih dalam.

Kawasan ini sedalam 5 meter. Selain terumbu karang alam, Anda juga bisa melihat terumbu karang dari reff ball yang ditanamkan PT NMR beberapa tahun lalu.

"Ada 3.000 reff ball yang disebar sejak 1999 di tujuh titik yang berguna untuk meningkatkan populasi ikan yang berkurang akibat global warming," kata Jerry Konjansow, Manager Environment NMR.

Perairannya yang tenang sangat mendukung kelancaran kegiatan snorkeling. Bila kapal bergeser ke kanan, maka Anda akan menemukan Teluk Buyat. Teluk yang selama ini dipandang negatif. Namun, sebenarnya di tempat ini bisa digelar penyelaman dengan lokasi di ujung sebelah kiri Pantai Buyat sampai Teluk Buyat.

Tempat diving terbaik di lokasi yang miring karena di sini banyak ditemukan organisme laut yang unik. Gugusan Karang yang terhampar pada kedalaman 5?15 meter kaya akan organisme laut. Antara lain, nudibranch, ghost pipefish, leaffish, dan beragam jenis udang kecil. (sindo//jri)

Sumber : okezone.com
Lanjut membaca “Surga Terpendam”  »»